Feny Djoko Susanto
Presiden Direktur PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk.
 
Mewarisi kepemimpinan Alfamart dari ayahnya, Feny Djoko Susanto berhasil mengembangbiakkan jaringan minimarket Alfamart hingga mencapai 3.000 gerai lebih di Pulau Jawa dan Sumatera. Ia juga berhasil menjadikan perusahaannya sebagai  perusahaan minimarket pertama  yang go public.

“Feny akan jadi salah satu bintang di  industri ritel,” kata Tutum Rahanta, ketua harian Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), tentang Feny Djoko Susanto, presiden direktur PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (Alfamart). Pernyataan Tutum bukan tanpa alasan. Menjadi chief executive officer (CEO) perusahaan jaringan minimarket sekelas PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. pada usia relatif muda, Tutum mencermati  Feny mampu melakukan beberapa terobosan penting bagi perusahaannya sekaligus benchmark bagi perusahaan ritel lainnya.

Menurut Tutum, yang paling diingat dari langkah Alfamart sejak ditangani Feny ialah keputusan go public pada awal 2009. Ini, lanjut Tutum, adalah langkah paling berani yang dilakukan Feny mengingat kondisi ekonomi dunia ketika itu sedang mengalami krisis. Sebagai catatan saja, saat itu Alfamart adalah perusahaan pertama yang berkukuh turun ke lantai bursa saat korporasi lainnya memilih untuk menunda atau bahkan membatalkan IPO. Di industri ritel, Alfamart adalah perusahaan minimarket pertama yang melakukan aksi korporasi ini. ”Alfamart merupakan minimarket pertama di Indonesia yang go public,” cetus Tutum.

Jadi Asisten Kepala Toko

Kendati sebagai putri pendiri dan pemilik Alfamart (Djoko Susanto) serta berpendidikan tinggi dari luar negeri, Feny tidak langsung mendapat posisi empuk di Alfamart. Ia sempat bekerja sebagai asisten kepala toko di Alfa Toko Gudang Rabat Cabang Villa Melati Mas. Jam kerjanya tak berbeda dari karyawan lain, pukul 08.00‒21.00. "Setelah dua tahun di situ, saya baru pindah ke Alfa Cikokol,” kata Feny.  Selama “proses magang” itulah ayahnya terus memberikan pendidikan dan pelatihan yang berhubungan dengan bisnis ritel.

Pendampingan dan pelatihan seperti itu, menurut Tutum, adalah suatu hal yang wajar. Apalagi bisnis ritel punya kekhasan yang tidak dimiliki industri lain. “Di sektor ritel, kita harus mampu menggalang hubungan sedekat mungkin dengan vendor dan konsumen sehingga proses pendampingan memang diperlukan,” katanya.  Feny sendiri sejak awal menikmati tahapan magang yang harus dilalui. “Saya menyukai magang. Bagi saya, ini peluang agar bisa terjun langsung secara operasional dan lebih banyak belajar tentang dunia ritel secara langsung di lapangan,” ungkapnya.


Bagi Feny, bekerja bersama dengan orang-orang yang akan menjadi karyawannya bukanlah perkara sulit. Karakter perempuan yang berpikir terbuka dan low profile pada dirinya memudahkan ia diterima di lingkungan mana pun. “Di industri ritel, ada beberapa yang menjadi kunci, antara lain, ialah open minded dan sikap terbuka serta mampu menjalin komunikasi yang baik dengan supplier, dan Feny memiliki semua hal itu,” ujar Tutum. Apalagi, kemampuan itu ditunjang dengan pendidikan tinggi Feny di bidang manajemen dan keuangan. Feny mendapatkan gelar MBA dari Ohio State University, AS.

Alhasil, kinerja Alfamart sejak di bawah kendali Feny terus meningkat. Selama enam bulan pertama 2009, Alfamart mencatatkan pendapatan Rp4,5 triliun atau naik dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar Rp3,6 triliun. Tahun ini sejumlah penghargaan juga diraih Alfamart, seperti Top Brand Award dan Indonesia Best Brand Award 2009. 
“Banyaknya penghargaan yang diterima Alfamart mencerminkan pencapaian kinerja yang terus membaik sekaligus kemampuan Feny dalam menjalankan bisnisnya,” cetus Tutum. Per 31 Desember 2008, Alfamart memiliki 2.157 gerai minimarket  dan 622 minimarket Alfamart dalam bentuk waralaba. Angka ini terus berkembang dengan jumlah gerai per Mei 2009 mencapai 3.000 buah dengan gerai berbentuk waralaba sebanyak 711 buah yang tersebar di Pulau Jawa dan Sumatera.

Tidak ada komentar

01 brand
02 brand
03 brand
04 brand
05 brand
06 brand